Ini sebenernya tuntutan dari Bg Topik si tapir, dan cuma pengen aku jadikan sebagai asumsi pribadi doang. Cuma yaudah deh gakpapa, apa salahnya berbagi ya gak?wkwk
Jadi ceritanya gini.....
Aku bergabung dalam sebuah organisasi sekolah ber-merk OSIS. Program kerja pertama osis di sekolahku itu ngadain pertandingan badminton antar kelas sesudah ujian semester. Jadi, aku yang saat itu bertugas untuk nyatetin skor di lapangan dua agak aneh gitu dengan seorang cowo-sok-keren pake kacamata, pake jacket jeans, dan headseat yang dipasang cuma di sebelah telinga, ditambah waktu itu dia lagi ngunyah permen karet berada di lapangan. Bisa ngebayangin gak gimana penampilannya? Gak muluk-muluk, saat itu aku gak suka gayanya yang SOK OKE (wakaka) Mikir juga kenapa aku punya abang kelas macam gini._.
Nah, selesai pertandingan, anggota osis ngadain rapat tentang bagaimana jalannya pertandingan hari itu. Dan yang buat aku shock adalah..........DIA MASUK DALAM ANGGOTA OSIS!!!! Parahnya ya, PARAHNYA dia masih sempet-sempetnya dengerin musik dari headseat yang satu kuping terus masih tetep pake acara ngunyah permen karet pula! Padahal ya, padahal itu posisi lagi rapat! Catet: L.A.G.I R.A.P.A.T!-_-Mikir juga gimana jadinya osis punya anggota begini.__.
Kebayang kan gimana penampilannya? Seberapa slengek gayanya? Seberapa sok unyu-nya dia? Pasti pada ngira dia itu sombong. SAMA! Aku juga berfikir gitu awalnya. Tapi, mungkin disinilah berlaku kalimat, don't judge book from the cover!
DIA yang awalnya aku kira sombong, ternyata....Ya begitu wkwk
Aku pernah ngedapetin dia sholat dzuhur di mushola sekolah. Dalam hati berkata, "bisa sholat juga ternyata."
Selang beberapa hari, pulang sekolah aku ke kantin. Kebetulan hari itu aku lagi ada latihan ekskul jadi cari makan siangnya di kantin. Tiba di kios bunda niatnya mau pesen nasi goreng atau minta dimasakin mi, eh si bunda malah gak ada. Yang ada cuma ayah yang lagi bikin minuman buat si itu...abang kelas tengil-_-
Aku yang sadar bunda gak ada, malah nanya ke ayah gini, "Yah, nasi gorengnya abis ya?"
Tiba-tiba si tengil satu itu ngejawab, "Gadak-gadak, udah sana pergi hush"
Aku bengong, lah? ini anak sejak kapan nikah sama emak gua? Wong manggil ayah, kenapa dia yang nyaut?-_-Tapi disisi lain aku masem-masem juga, bisa ngomong juga ternyata. Dikira sombong yekan? wkwk Oke, it's the first time elu negor gua!
Terus...
.....
....
....
....
....
....
....
...
...
...
...
...
...
...
...
...
...
...
UDAH YA BG TOPIK, ITU JADI RAHASIA MONGA AJA YANG JELAS UTANG UDAH DIBAYAR WKWK;p
Sabtu, 01 Februari 2014
Rabu, 08 Januari 2014
(Maybe) This is a History
Lucu ketika mengingat pertemuan pertama kita yang tidak terduga.
Senang ketika tau bahwa kita memiliki perasaan yang sama.
Bahagia ketika kita berdua sama-sama berjuang dengan apa yang menjadi penghalang.
Terharu ketika aku berada diujung keterpurukan mengingat bahwa setidaknya aku masih memilikimu yang ntah bagaimana menjadi kekuatanku dalam menghadapi semua hinaan dan cacian dari mereka yang jelas-jelas tidak mengerti diriku.
Heran ketika semua berubah di malam pergantian tahun.
Bingung ketika aku sendiri tidak tau berbuat apa sehingga membuat kau begitu marah.
Aku bertanya namun kau tak ingin menjawab dan tak berniat membantuku untuk menemukan kesalahanku. Kau menyuruhku intropeksi dan aku kehilangan point intropeksiku. Namun, tidakkah kau berfikir bahwa seharusnya bukan aku saja yang harus intropeksi?
Ketika aku bertanya, apakah perjuanganmu hanya sampai disini? Dan dengan kata lain kau menjawab, 'IYA' membuat hatiku hancur dan harus menelan pil kekecewaan? Sebenarnya apa salahku sehingga semuanya menjadi seperti ini?
Melihatmu dari dekat namun terasa sangat jauh membuat hatiku teriris. Aku merindukanmu. Sangat. Tapi apakah kau peduli?
I remember when you said, 'i belong to you, you belong to me,' padaku. Ketika kita saling menggoda dan berujung dengan mengucapkan kata-kata manis like iloveyou, aku kangen kamu, dan etc.
Sayang, seharusnya aku gak terlalu jatuh dan terbuai dengan kata-katamu:')
Tapi aku tidak menyesal dengan apa yang terjadi saat ini. Aku menghargai keputusanmu yang memang menganggap semuanyaa telah usai walaupun jujur aku masih mengharapkanmu untuk kembali. Setidaknya menjelaskan kenapa kau pergi meninggalkanku dan membuatku bisa terima keputusanmu dengan lapang hati. Bukannya begini, meninggalkanku dengan pikiran yang seperti benang kusut demi mencari jawaban dari pertanyaan, apa salahku?
Huh, sudahlah. Kemanapun nasib membawa kita, kurasa itulah yang terbaik:')
Senang ketika tau bahwa kita memiliki perasaan yang sama.
Bahagia ketika kita berdua sama-sama berjuang dengan apa yang menjadi penghalang.
Terharu ketika aku berada diujung keterpurukan mengingat bahwa setidaknya aku masih memilikimu yang ntah bagaimana menjadi kekuatanku dalam menghadapi semua hinaan dan cacian dari mereka yang jelas-jelas tidak mengerti diriku.
Heran ketika semua berubah di malam pergantian tahun.
Bingung ketika aku sendiri tidak tau berbuat apa sehingga membuat kau begitu marah.
Aku bertanya namun kau tak ingin menjawab dan tak berniat membantuku untuk menemukan kesalahanku. Kau menyuruhku intropeksi dan aku kehilangan point intropeksiku. Namun, tidakkah kau berfikir bahwa seharusnya bukan aku saja yang harus intropeksi?
Ketika aku bertanya, apakah perjuanganmu hanya sampai disini? Dan dengan kata lain kau menjawab, 'IYA' membuat hatiku hancur dan harus menelan pil kekecewaan? Sebenarnya apa salahku sehingga semuanya menjadi seperti ini?
Melihatmu dari dekat namun terasa sangat jauh membuat hatiku teriris. Aku merindukanmu. Sangat. Tapi apakah kau peduli?
I remember when you said, 'i belong to you, you belong to me,' padaku. Ketika kita saling menggoda dan berujung dengan mengucapkan kata-kata manis like iloveyou, aku kangen kamu, dan etc.
Sayang, seharusnya aku gak terlalu jatuh dan terbuai dengan kata-katamu:')
Tapi aku tidak menyesal dengan apa yang terjadi saat ini. Aku menghargai keputusanmu yang memang menganggap semuanyaa telah usai walaupun jujur aku masih mengharapkanmu untuk kembali. Setidaknya menjelaskan kenapa kau pergi meninggalkanku dan membuatku bisa terima keputusanmu dengan lapang hati. Bukannya begini, meninggalkanku dengan pikiran yang seperti benang kusut demi mencari jawaban dari pertanyaan, apa salahku?
Huh, sudahlah. Kemanapun nasib membawa kita, kurasa itulah yang terbaik:')
Langganan:
Postingan (Atom)