Oiya, perlu diketahui juga kalau aku nulis cerita ini hanya dalam waktu 3jam dan belum ada proses pengeditan yang maksimal, jadi maaf banget kalo alur ceritanya rada gak nyambung.
FF ini juga aku bagi dalam 2 part, part selanjutnya tungguin besok ya^^
Oke, daripada banyak bacot, mendingan cekidot ^^~
Title :
What Should I Do?
Author :
Loemongga Taemints
Main Cast :
-Lee Taemin
- Song Hyo Sung
-Lee Jinki
Support Cast : -
Choi Sulli
Length :
Twoshoot
Genre :
Sad, Romance, Frienship
Rating :
General
Summary :
What Should I do to keep you here?
What should I do to make you come back?
What
should I do for forget you?
Credit poster by : http://angelbesidemey.wordpress.com/ (thankyou bgt kak amel udah mau buatin posternya. Bagus, aku suka^^ )
Credit poster by : http://angelbesidemey.wordpress.com/ (thankyou bgt kak amel udah mau buatin posternya. Bagus, aku suka^^ )
*21 Oktober 2000
“Ini untukmu, jangan pernah menangis lagi ya” ungkap Taemin kepadaku. Kuterima sebuah boneka pisang darinya. Sangat cantik, aku suka.
“Ne, aku
janji padamu”
“Mwo? Janji untuk apa?”
“Mwo? Janji untuk apa?”
“Aku akan berjanji tidak akan menangis lagi”
“Hei! Aku bukan melarangmu untuk tidak menangis”
“Jadi?”
“Berjanjilah padaku untuk tidak menangis sendirian. Jika kau sedih, bagilah air matamu itu padaku. Arraseo?”
“Berjanjilah padaku untuk tidak menangis sendirian. Jika kau sedih, bagilah air matamu itu padaku. Arraseo?”
Aku hanya mengangguk mantap.
“Hyo Sung-ah, mau kah kau berjanji satu hal lagi padaku?”
Aku diam menatap dirinya. Pandangannya hanya lurus kedepan,
tanpa membalas tatapanku.
“Berjanjilah untuk selalu menjadi sahabatku”
Aku tersenyum. “Ne, tentu saja”
“Selamanya?”
“Hhmm…”
“Sampai aku menikah nanti, kau akan menjadi sahabatku?”
“Aku akan menikah bersamamu”
“Hahaha..Kau ini ada-ada saja, itu tidak akan mungkin
terjadi”
“Kenapa tidak?”
Taemin terdiam.
*flashback*
@ Lee’s Family Home
Author POV
Taemin sedang asik tidur-tiduran sambil memain-mainkan robotnya.
“Hei Lee Taemin!” ungkap seseorang sambil terjun ketempat tidur Taemin
“Oh, Jinki hyung. Wae?”
Taemin merubah posisinya. Dia duduk ditempat tidur itu
Lee Taemin dan Lee
Jinki adalah saudara kandung. Mereka sangat akur. Tapi karna dari kecil Jinki
sudah terobsesi dengan cita-citanya, dia hanya menghabiskan waktunya dengan
terus belajar. Makanya Taemin selalu bermain dengan Hyo Sung ketimbang dengan
Jinki.
“Kapan kita belajar bersama
lagi?” tanya Jinki
“Tumben kau bertanya
seperti itu”
“Aku sebenarnya hanya
ingin bertemu dengan temanmu”
“Mwo? Nugu? Hyo Sung
maksudmu?”
“Ne. Hyo Sung. Wae?”
“Gwenchana. Kenapa
tiba-tiba kau ingin bertemu dengannya?” tanya Taemin sambil meminum jus yang
sudah diabaikan dari tadi di meja kecil dekat tempat tidurnya.
“Aku tidak tau, tapi
aku merasa kalau aku menyukainya”
‘Bbbbbrrr,,,,,’ Tamin
menyemprotkan minumannya.
“Uhuk..uhuk…uhuk..”
“Ya! Gwenchanayo?
Kenapa denganmu? Aaaiisshh” Jinki duduk untuk menepuk-nepuk pundak Taemin.
“Hyung serius
menyukainya?”
“Ne, maka dari itu kau
harus berjanji kepadaku”
“Berjanji untuk apa?”
Taemin kembali meneguk minumannya.
“Berjanji untuk tidak
menyukainya karna aku telah menyukainya lebih dulu”
Taemin terdiam. Dia
sedang berfikir, kenapa seperti ada gempa kecil didalam hatinya ketika Jinki
mengatakan kalau dia ‘menyukai Hyo Sung?’
“Ah, sudahlah, mungkin
hanya efek dari keselek tadi” ungkap Taemin dalam hati
“…Ne, aku berjanji
padamu tidak akan menyukai Hyo Sung”
“Ingat ya, ini janji
seorang laki-laki”
“Tapi kan aku masih 7
tahun”
“Babo! Tapi kau kan
laki-laki”
“Ah..Ne, ne, arraseo”
Mereka berdua menautkan jari kelingking masing-masing
Mereka berdua menautkan jari kelingking masing-masing
Hyo Sung POV
“Hei Taeminnie! Kenapa kau melamun?” aku melambai-lambaikan telapak tanganku didepan wajahnya.
“Mwo? Aah ne, aku tidak apa-apa kok”
*18 July 2009
Aku memain-mainkan kakiku ditetesan air hujan yang jatuh dari sudut atap sekolah. Hari ini, tepat satu minggu aku dan Taemin masuk ke Chungdam University. Aku menunggunya keluar kelas. Dia dan Sulli sedang berdiskusi dengan Wali Kelas kami, membicarakan suatu hal yang tentu saja aku tidak tau. Aku berdiri dari tempat dudukku.
“Hah..sepertinya hujan deras akan lama berhenti”
Ku ulurkan tangan kananku untuk merasakan dinginnya air hujan
itu. Kupejamkan mataku, kubiarkan sebagian kecil otakku kembali mengingatnya
*flashback*
03 September 2007
Ketika itu langit masih cerah, namun tiba-tiba berubah gelap ketika mendung dengan cepat menyelimutinya. Seperti biasa kami selalu pulang bersama. Dan persis seperti saat ini, hujan memenjarakan kami berdua.
Aku dan sahabatku
Taemin berdiri merapat kesebuah pohon yang sangat besar bertedukan ranting yang
kecil dan daun yang lebat. Kami berdua saling melipat tangan menahan dinginnya
air hujan yang bercampur udara sore itu. Sesekali kami bertukar cerita,
sesekali juga kami memainkan tetes air hujan yang tak kunjung reda.
Sampai tiba-tiba Taemin
menerobos hujan dan menari-nari didepanku.
“Ayo kemari! Disini
sangat menyenangkan!”
Tentu saja aku tidak
mau. Tapi ntah kenapa kakiku bergerak untuk mengikutinya. Dan tanpa disadari,
akupun menikmatinya.
“Menyenangkan bukan?”
Aku mengangguk
semangat. Kemudian kami berjalan ditengah hujan. Melanjutkan kembali perjalanan
menuju rumah yang sempat tertunda.
“Ya! Sejak kapan kau punya kebiasaan tidur berdiri?” Taemin
menepuk pundakku. Spontan aku turunkan tanganku yang masih melayang diudara
merasakan air hujan tadi.
“Ah, tidak. Sudah selesaikan? Ayo pulang” Ku tarik tangan
kanan Taemin dengan tangan kiriku. Aku sadar, Taemin tidak bergerak. Aku
berbalik menatapnya.
“Ayo!” ajakku sekali lagi. Dia malah menggaruk-garuk
kepalanya yang –mungkin- tidak gatal.
“Ehmm…” dilepasnya tangannya yang masih ku genggam.
“Wae?”
“Maafkan aku Hyo Sung, tapi aku harus kerumah Sulli”
“Mwo? Sulli?”
Tiba-tiba Sulli muncul dari balik badan Taemin. Aku
menatapnya dengan heran.
“Ne, ada yang harus kami kerjakan”
“Aku rasa ketua kelas dan sekretaris akan sibuk sekarang”
Sulli memotong pembicaraanku dan Taemin. Benar saja, hari pertama masuk
sekolah, Taemin dan Sulli sudah dilantik menjadi ketua kelas dan sekretaris.
Sedangkan aku? Tidak menjadi apa-apa. Hah, beruntung sekali mereka. Aku hanya
menatap Sulli dengan pandangan yang aku sendiri tak bisa mengartikannya. Kemudian
ku tundukkan kepalaku. Kecewa.
“Ah tidak! Lebih tepatnya pasangan baru dikelas akan sibuk
sekarang” Sulli menambahkan.
Pasangan baru? Ah iya, aku ingat 3 hari yang lalu Taemin
cerita kalau mereka sudah jadian. Dia
bilang, mereka sudah bertukar nomor hape sejak pertama masuk kelas, kemudian
berlanjut sampai sekarang. Ketika Taemin
bercerita, kulihat ekspresi wajahnya sangat senang. Aku tak pernah melihatnya
selama ini. Aku sedih. Aku sedih karna bukan aku yang membuat wajahnya ceria
seperti itu. Aku tersenyum simpul, kemudian menundukkan kepalaku lagi.
“Ne, arraseo. Mianhae. Kalau begitu, aku akan pulang lebih
dulu”
Aku tersenyum tulus kepada Taemin. Kemudian berbalik,
meninggalkan mereka berdua.
“Chakkaman!” Taemin menarik tangan kiriku. Seolah tak mau
membiarkan aku pergi. Apa yang aku fikirkan? Oh tuhan, dia sudah jadi milik
Sulli sekarang!
“Kau tidak mau ikut?” Dengan perlahan aku tarik kembali
tanganku yang digenggamnya. Aku tersenyum-lagi- kepadanya
“Tidak. Aku tidak mau mengganggu kalian” aku berbalik lagi,
sekarang aku benar-benar meninggalkan mereka.
Aku duduk di halte, menunggu bus menuju rumahku datang. Ku
edarkan semua pandanganku keseluruh sudut jalan. Sampai akhirnya aku melihat
Taemin dan Sulli sedang berjalan keluar sekolah. Mereka memakai satu payung
putih transparan. Kulihat juga tangan kiri Taemin merangkul pundak Sulli.
Sesekali juga mereka tertawa bersama. Sakit.
Tanpa disadari kakiku bergerak mengikuti mereka. Aku berjalan
ditengah hujan tanpa memakai payung ataupun pelindung lainnya. Hujan memang
tidak sederas yang tadi. Tapi tetap saja akan membawa penyakit bagi yang
berjalan tanpa memakai alat pelindung.
Aku tetap mengikuti mereka dari belakang, melihat senyum
Taemin yang bukan untukku. Sakit. Aku berhenti. Kulihat mereka memasuki rumah
minimalis yang menurutku cukup besar itu. Itu rumah Sulli. Aku tersenyum
melihat mereka. Apa yang aku lakukan? Berjalan ditengah hujan, tanpa pelindung
apapun. Ku biarkan rambutku yang terurai panjang basah. Bajuku? Rok sekolahku?
Sepatuku? YaTuhan, semuanya basah. Apa yang harus aku lakukan? Jika terus
seperti ini, aku akan sakit.
Akhirnya aku memberanikan diri memencet bel rumah Sulli. Satu
kali, tidak ada yang menjawab. Dua kali, tolong, disini sangat dingin.
‘cekrek’
Akhirnya, pintu itu terbuka, dan seorang malaikat
menyelamatkanku.
“Ya ampun! Hyo Sung, apa yang kau lakukan disitu?!”
Dia menghampiriku. Pandanganku kabur, tapi aku masih bisa
mendengar suaranya.
“Taemin..” rintihku. Ku tarik paksa ujung bibirku.
Taemin merangkulku berjalan kedalam rumah Sulli.
“Chagia, siapa yang datang?” ucap Sulli dari seberang,
mungkin dia didapur
“Sulli-ah, bisa tolong ambilkan handuk? Wajah Hyo Sung
sekarang sangat pucat”
“Mwo? Hyo Sung? Bagaimana bisa dia disini?”
“Aku tidak tau, tolong cepat sedikit”
“Ah ne..tunggulah sebentar”
Aku dan Taemin duduk di sofa ruang tamu rumah Sulli.
“Hyo Sung-ah, gwenchanayo? Wajahmu pucat sekali”
“Ne, gwenchanayo. Kau tenang saja” kupaksakan bibirku untuk
tersenyum.
“Kenapa kau bisa sampai disini?”
Tiba-tiba Sulli datang membawa handuk kecil dan selimut.
Syukurlah, aku tak harus menjawab pertanyaan Taemin.
“Ini, handuk dan
selimut untukmu. Aku sedang membuat coklat panas. Kau mau?”
“Ne, terimakasih banyak Sulli-ah”
“Kalian berdua tunggulah sebentar”
Kemudian Sulli kembali kedapur. Aku tau Sulli berusaha
bersikap ramah terhadapku. Walaupun sudah jalas diwajahnya menggambarkan kalau
dia sangat kesal akan kedatanganku. Tapi, aku hargai usahanya untuk bersikap
baik terhadapku.
Aku mengeringkan rambutku dengan handuk yang diberi Sulli
tadi.
“Hyo Sung-ah, sebaiknya kau buka saja jas sekolahmu itu. Kau
bisa masuk angin. Taruh saja diatas meja, biar aku yang keringkan nanti” teriak
Sulli dari dalam dapur yang mempunyai lubang setengah lingkaran disisi
dapurnya.
“Ah ne” balasku.
Aku membuka jas sekolahku. Aku merasa kalau Taemin
memperhatikanku. Kulirik sekilas wajahnya. Matanya tertuju pada…Astaga..Dia
melihat kebagian dadaku yang dua kancingnya terbuka, hingga memperlihatkan pakaian dalamku yang bermotif bunga-bunga merah jambu itu. Dia berdehem, kemudian
berpaling. Cepat-cepat ku kancing bagian tadi. Mendadak suasana menjadi
canggung.
Sampai akhirnya Sulli datang membawa 3 cangkir coklat panas.
Diletakkannya cangkir-cangkir itu diatas meja. Kemudian mengambil jas sekolahku
yang basah. Ntah kemana dibawanya jas itu, akupun tak tau.
Selagi masih panas, ku teguk cangkir berisi coklat panas itu.
Tak berapa lama Sulli datang membawa beberapa buku catatan. Mereka akan memulai
pekerjaan mereka. Kuperhatikan wajah mereka berdua. Kadang kala sangat serius,
tapi masih diselangi canda tawa. Aku tersenyum simpul menatap mereka.
Tiba-tiba aku merasa kepalaku sangat pusing. Aku mencoba
berbaring disofa panjang. Ku tutup badanku dengan selimut yang diberi Sulli
tadi. Dan aku tertidur.
***
“Hyo Sung-ah, bangun. Kau tidak mau pulang?”
Sayup-sayup kudengar suara Taemin membangunkanku. Pandanganku
masih samar, tapi aku sadar kalau Taemin dan Sulli sedang menatapku sekarang
dan seorang lelaki disebelahnya
Aku mencoba menatap wajah itu jelas. Ah, Jinki oppa.
“Ah ne,” jawabku kupegang kepalaku yang masih berdenyut cukup
hebat.
“Ayo kita pulang” ajak Jinki oppa.
“Ne” aku bangkit dari sofa, kulipat selimut yang kugunakan
tadi.
“Taemin, jam berapa kau akan ku jemput?” kata Jinki oppa.
Sejenak aku menghentikan kegiatanku. Apa maksudnya ini? Berarti Taemin tidak
pulang bersama kami?
“Sekitar jam 8 saja hyung, sebentar lagi akan selesai kok”
“Oh yasudah, tunggulah sebentar”
“Kalian tidak apa-apa jika naik bus? Ini sudah malam” Kata
Sulli
“Ne, tidak apa-apa” jawab Jinki oppa.
“Oh ya, ini jas sekolahmu” Sulli menyerahkan jas itu padaku.
“Ne, gomaoyo”
Aku dan Jinki oppa berjalan keluar rumah Sulli.
“Hati-hati dijalan” teriaknya sambil melambai. Jinki oppa
membalas lambaiannya Sulli, sedangkan aku hanya tersenyum.
“Oppa, kenapa kau bisa ada disini?” tanyaku memecah
keheningan
“Ne, Taemin menelponku tadi. Katanya kau sedikit tidak enak
badan. Dia takut keadaanmu semakin parah. Jadi dia menyuruhku untuk
menjemputmu. Tapi karna aku tadi ke kampus tidak membawa motor. Inilah
akibatnya, kita jadi naik bus sekarang” kudengar ada nada penyesalan dikalimatnya
“Hehe, tidak apa-apa oppa. Aku sudah terbiasa naik bus,
terimakasih sudah mau menjemputku”
Tiba-tiba Jinki oppa berteriak
“BUS!! ” BUS…!!! Hyo Sung…!! BUSNYA…!!”
*bersambung
Nah, gimana menurut kalian? Rada gak nyambung ya? Tunggu kelanjutannya besok ya..Gomao yang udah mau baca^^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar