Tittle : Still In My Mind
Author : Loemongga Khofifah
Cast : Lee Jinki
Kim Yeonju
Choi Minho
Length : One Shoot
Rating :
PG-15
Genre : Romance, Angst, Friendship
***
“Chagi, berhenti disini sebentar”
ucapku pada Minho yang sudah menjadi kekasihku sejak lima tahun terakhir.
Mendengar perintahku, Minho langsung
memberhentikan mobilnya dipinggir jalan, tepat di depan toko yang menjajarkan
banyak bunga. Aku membuka pintu dan mengambil langkah untuk keluar.
“Tunggu!” cegah Minho seraya menahan
tanganku.
“Kenapa?”
“Ini. Pilih yang paling bagus,” dia
menyerahkan beberapa lembar uang padaku.
“Tidak perlu. Aku punya uang kok.
Aku pakai uangku saja,” tolakku.
“Aku tau sayang, pakai ini saja ya~”
“Minho-ya, terkadang aku malu ketika
setiap kali kita pergi bersama selalu saja kau yang membayar semuanya. Jadi
tolong, kali ini biarkan aku yang mengeluarkan uang,” aku menyentuh pipinya
dengan telapak tanganku. Sebuah cara agar dia tidak tersinggung akibat
tolakanku.
“Ng…Baiklah kalau itu maumu,”
ucapnya dengan nada terpaksa.
Aku tersenyum sebelum benar-benar
meninggalkan mobilnya. Minho memang lelaki yang keras kepala. Sangat sulit
untuk menolak perintahnya. Apalagi prinsipnya yang mengatakan setiap pria wajib membayar semua biaya
ketika mereka berkencan dengan pacar. Huh, dia membuatku seperti wanita
yang hanya memanfaatkan uangnya-_-
“Ahjumma, tolong beri aku sebuket
mawar putih,” kataku pada bibi penjual bunga.
Dengan cepat ahjumma itupun
memberikan pesananku.
“Ini agashi” dia menyerahkan bunga
mawar itu.
Aku menerimanya. Baru saja aku
memegang bunga itu tapi aromanya dengan cepat menghuni hidungku. Harum batinku dalam hati.
“Berapa harganya?”
“Cuma 50.000”
Aku mengeluarkan dompet yang sedari
tadi bertengger di dalam tas sandangku.
“Ini” kataku sambil mengulurkan
selembar uang.
“Sebentar, aku ambil kembaliannya”
“Tidak usah ahjumma. Sebagai
gantinya, bolehkah aku menerima setangkai mawar merah ini?” aku menunjuk deretan
mawar merah.
“Oh tentu saja,” katanya seraya
mengambil setangkai dari deretan mawar merah yang aku tunjuk tadi.
Baru saja aku mengambil bunga itu,
terdengar suara klakson mobil Minho.
“Apa masih lama?” teriaknya dari
dalam mobil
“Sebentar,” balasku tak kalah
berteriak.
“Terimakasih atas bunganya ahjumma,”
aku membungkuk.
“Seharusnya aku yang
berterimakasih,” ahjumma itu tersenyum “Sudah cepat pergi. Pacarmu sudah
menunggu”
“Nde, Annyeong~”
Cepat-cepat aku pergi sebelum Minho
menunggu lebih lama.
“Sudah?” tanyanya setelah aku masuk
kedalam mobil.
Aku menaruh bungaku di dashbor mobil
dan menghadap kesamping, lebih tepatnya menghadap ke Minho.
“Yak! Kenapa kau tak bisa bersabar oh?”
DEG! Layaknya De Javu, kejadian itu terputar
lagi di pikiranku.
“Sabuk pengamanmu!” tegur Minho.
“Mmm,” aku tergagap dan langsung memakai
seatbelt.
“Kau siap? Sebentar lagi kita bertemu
dengannya,” Minho tersenyum dan meraih jemari tangan kiriku.
Aku tersenyum puas sambil mengangguk. Lagi,
pikiranku melayang ke waktu 13 tahun silam. Ditemani genggaman Minho yang masih tertempel di jemariku, aku
mengingat kembali masa-masa bersama dia, sahabat sekaligus cinta pertamaku.
***
Ini hari pertama Masa Orientasi-ku di Junior
High School. Tapi ntah kenapa aku malah datang terlambat. Akhirnya aku dihukum
untuk bernyanyi diatas podium aula. Ah, ini sungguh memalukan!
“Yunho-ya, ini ada seorang lagi yang
terlambat,” ucap salah satu sunbae yang tak aku kenal namanya pada sunbae yang
sedang menghukumku sekarang.
“Bagus. Kau kemari! Karena kau terlambat, maka
bernyanyilah” ucap Yunho sunbae sambil menyerahkan mickrophone pada anak tadi.
“Sebelumnya, perkenalkan dulu dirimu,”
“Ng…Annyeonghasimnikka. Naneun Lee Jinki
imnida,” ucap anak laki-laki disebelahku sambil membungkuk. Kesan pertamaku
adalah, dia cukup berani.
Tak berapa lama, dia melantunkan lagu yang
belum pernah aku dengar sebelumnya. Lagu yang asing buatku, tapi nyaman untuk
di dengar. Aku tercengang. Suara lembutnya mampu membuatku dan semua orang yang
ada disini, menganga.
Tak berapa lama, dia menghentikan nyanyiannya.
Semua orang bertepuk tangan, kecuali aku. Ntah kenapa aku tiba-tiba merasa gugup.
Jantungku berdegup kencang. Kini alunan indah yang tadi terucap dari bibirnya
selalu terngiang-ngiang di kepalaku.
Dia menyerahkan mickrophone yang tadi
dipakainya kepadaku. Aku berdehem, dan menerima serahannya.
“Ng…Naneun Kim Yeonju imnida,” kini aku
bertambah gugup. Terlebih Jinki terus memperhatikanku.
“Ng….apa yang harus aku nyanyikan? Menyanyi
itu adalah hal yang sulit” Mendengar ucapanku, semua orang yang ada disana
mengeluh. Biarkan saja, dari pada aku memalukan diriku sendiri?
“Kau tidak mau menyanyi?” tanya Yunho sunbae
dengan nada sinisnya.
“Mianhae sunbaenim” aku membungkuk.
“Yak! Kalau begitu, singkirkan semua debu yang
ada di perpustakaan!”
Aku tercengang. Jangan bercanda. Bahkan letak perpustakaan saja aku belum tau, sesalku
dalam hati.
“Palli!” perintahnya sedikit berteriak.
Aku menelan liurku dengan susah payah. Ku
langkahkan kakiku dengan berat memasuki bagian dalam sekolah yang menampilkan
banyak ruang kelas.
Di lantai koridor, aku melihat dua bayangan.
Aku yakin salah satu bayangan itu adalah diriku. Tapi bayangan milik siapa satu
lagi? Hantu kah? Tidak, tidak mungkin ada hantu di pagi hari. Karena penasaran,
dengan ragu-ragu aku menoleh kebelakang.
Ku lihat anak yang baru 20 menit tadi ku
ketahui namanya. Lee Jinki, nama yang
begitu lekat di dalam memori otakku. Wajahnya yang terkena sinar matahari pagi
menambah kesan tampan disana. Tanpa ku sadari, aku sedang mengagumi ciptaan Tuhan
yang satu ini.
“Kenapa melihatku seperti itu? Apa ada yang
aneh?” seketika aku membuyarkan pikiranku.
“Tidak!” jawabku salah tingkah. “Kenapa kau
mengikutiku?”
“Mereka yang menyuruhku. Mereka bilang kita
ditakdirkan untuk bersama. Jadi aku harus ikut membersihkan perpustakaan
bersamamu”
“Tapi kau kan sudah bernyanyi. Kenapa harus
ikut membersihkan____”
“Sudah ku bilang kan, mereka menganggap kita
ditakdirkan untuk bersama. Jangan banyak tanya,” katanya sambil berjalan
mendahuluiku. Aku terdiam ditempat. Menatap punggungnya yang semakin menjauh. Ada apa dengan jantungku?
“Haish, kenapa kau diam saja?” dia kembali dan
menarik tanganku. Menuntunku berjalan kearah perpustakaan. Ah, kenapa kau tak bisa bersabar? Bahkan untuk meredam gempa yang ada
di dadaku saja, aku tidak bisa.
***
Minho sedikit meremas jemariku yang sedari
tadi dia pengang dengan lembut. Membuatku tersadar dari lamunanku.
Aku menoleh kearahnya, “Kenapa?”
“Kau yang kenapa sayang? Daritadi tersenyum
terus.”
“Ah, benarkah?” aku terkekeh.
“Hm..kau terlihat aneh. Sedang memikirkan apa?
Aku ya?” tanya Minho dengan nada sedikit menggoda.
“Enak saja. Memangnya aku selalu
memikirkanmu?” aku memanyunkan bibir bawahku, meledeknya.
“Harusnya begitu karna aku selalu
memikirkanmu” ucapnya sambil tertawa.
“Ck, dasar!” aku tersenyum dan memalingkan
pandangan kearah jendela. “Hujan ya? Sejak kapan?”
“Yaampun Yeonju, pikiranmu kemana aja sih?”
Minho sedikit kesal padaku. Tapi aku tak terlalu menanggapinya.
Hujan mengingatkanku pada masa SMA. Masa
dimana aku memahami perasaan tanpa
kata-kata.
***
Aku dan Jinki memang selalu pulang sekolah
dengan berjalan kaki. Tapi saat di tengah perjalanan, hujan memenjarakan kami
berdua. Aku sedikit berlari untuk cepat sampai di pohon yang rindang. Jinki
menyeimbangkan langkahnya dan menutup kepalaku dengan telapak tangannya.
“Yeonju, kita berteduh disana saja ya?” Dia
menunjuk sebuah rumah pohon yang tak jauh dari kami. Aku mengangguk menyetujui.
Jinki menarik tanganku agar berlari lebih cepat.
“Kau naik lebih dulu,” Aku pun menaiki tangga
kayu yang menempel pada batang pohon, diikuti oleh Jinki dibelakangku.
Karena rumah pohon itu sangat sempit, jadi aku
dan Jinki membiarkan kaki kami bergelantungan dan basah kena air hujan. Aku
mendekap seluruh badanku yang menggigil kedinginan.
Ku lirik kearah Jinki yang sedang membuka
jaketnya. Mau apa dia? Setelah jaketnya terlepas, dia membuka kancing kemeja
seragamnya dan hanya menyisakan sebuah kaos oblong yang melekat di dadanya.
“Lain kali, jangan pakai rok sependek ini!”
dia menaruh kemejanya diatas pahaku yang kelihatan akibat rok yang kependekan.
Aku tersenyum menertawai diriku sendiri yang bodoh akibat berpikiran negatif
pada Jinki.
Tak puas membuatku terkejut, Jinki menambahkan
rasa terkejutku dengan memasangkan jaketnya di badanku.
“Lain kali, beli seragam yang lebih tebal!”
tambahnya.
“Iya cerewet!” aku tertawa setelah mengatakan
itu pada Jinki. Ya, dia memang cerewet, melebihi ibuku.
Tapi tawaku langsung berhenti ketika melihat
dirinya yang kini kedinginan. Aku jadi merasa bersalah karena sudah menerima
jaket Jinki.
Aku merapatkan jarak antara kami berdua dan
memberikan setengah bagian jaket itu padanya. Berbagi jaket mungkin hal yang
baik, pikirku.
“Yeonju-ya, disini sangat dingin” ungkapnya.
“Hmm…” gumamku menyetujui.
“Boleh aku memelukmu?”
Aku menatap wajahnya yang sedikit pucat
sebelum akhirnya mengangguk. Dia merengkuh seluruh tubuhku. Aku juga
membenamkan wajahku di dalam lekukan lehernya.
“Jinki-ya~”
“Hmm?”
“Jangan lepaskan pelukanmu. Disini, hangat” aku
mendengar Jinki tersenyum dan berkata,
“Tentu saja”
“Jinki-ya,” aku mengangkat wajahku untuk
menatapnya.
“Gigimu yang beradu itu membuatku tidak
tenang,” aku menyentuh bibirnya yang menggigil dengan ibu jariku.
“Benarkah?” Dia tersenyum dan menarik jaket
itu sampai wajah kami tertutupi.
Finally, on
the revers side of blue jacket, we kissed.
***
“Sebentar lagi kita sampai” Minho membuyarkan
lamunanku.
“Jeongmal?” jawabku semangat. Aku tidak sabar
karena dalam hitungan menit aku akan bertemu dengan Jinki.
Tak berapa lama Minho memberhentikan mobilnya.
“Disini kan?” tanyanya memastikan.
“Hmm…” aku memperhatikan daerah disekitarku.
“Iya. Ohya, kau jangan ikut ya. Aku ingin berdua saja dengannya”
“Arasseo, pergilah” aku tersenyum sambil
mengambil sebuket bunga mawar putih dari dashbor mobil Minho dan bersiap
keluar.
“Tunggu!” cegah Minho. Aku menoleh,
“Kenapa?”
“Jangan lupa katakan padanya kalau kita akan
segera menikah”
“Iya sayang, sudah hampir sepuluh kali kau
mengatakannya” melihat Minho tersenyum, aku pun segera pergi dari sana.
Bau tanah yang lembab karna hujan sudah
berhenti menyambut kedatanganku. Aku mendekat dan meletakkan sebuket mawar tadi
di depan batu nisan bertuliskan nama, Lee Jinki. Aku berjongkok dan mengusap
batu nisan itu. Senyum getir juga tergambar diwajahku.
Aku memejamkan mata dan menakup kedua telapak
tanganku di depan dada sambil mulai berbicara dalam hati.
“Tak terasa sudah enam tahun kau
meninggalkanku. Sebenarnya aku masih ingin marah kepadamu yang merahasiakan
penyakit itu padaku. Tapi berhubung kau sahabatku, jadi tidak mungkin kan aku
marah padamu selama bertahun-tahun? Aku juga bodoh karna tidak menyadarinya.
Aku bukan teman baik kan? Yak, Lee Jinki, kelak kau harus meminta maaf padaku!”
“Ng…sebentar lagi aku dan Minho akan menikah.
Sebenarnya aku sedikit merasa bersalah padanya, karna aku masih belum bisa
melupakanmu. Layaknya de javu, semua hal yang ku lakukan dengannya yang
kupikirkan adalah hal-hal yang kulakukan denganmu. Aku masih merasa kau
bersamaku. Mungkin karna kau masih berkeliaran di hati dan fikiranku. Disana, kau
terus tumbuh~”
“Tapi sekarang, aku ingin melepasmu.
Setidaknya, aku tidak lagi menyangkut-pautkan hal yang ku lakukan bersama Minho
dengan hal yang ku lakukan bersamamu, dulu”
“Jinki-ya, mohon bantu aku untuk menjauh
darimu, menghilangkanmu dari pikiranku, dan____Hei, aku serius. Jangan
gelitikin aku Jinki!” aku berhenti dan mulai tertawa akibat sentuhan aneh
dileherku.
Aku membuka mata dan melihat setangkai mawar
merah dibahuku. Aku mendongakkan kepala dan melihat Minho yang sudah berdiri
disampingku.
“Ini, tadi ketinggalan di mobil. Yeonju-ya,
bisakah kita pulang lebih cepat? Aku merasa sebentar lagi hujan akan turun”
ucapan Minho membuatku melihat kearah langit. Benar saja. Awan hitam telah
tampak disana.
“Sebentar” kataku padanya. Cepat-cepat aku memejamkan
mata dan menakup kedua tanganku didepan dada –lagi- Dalam hati aku berkata,
“Jinki-ya, sebenarnya aku tau dia hanya
cemburu melihatku bersamamu dan menjadikan alasan hujan agar aku cepat-cepat
mengakhiri pembicaraan kita dan pergi dari sini. Semoga aku dan kau bisa
bertemu di masa yang abadi” ucapku mengakhiri percakapan.
“Ayo kita pulang,” kataku seraya berdiri dan
mengapit lengan Minho.
“Ini, mawarnya taruh dulu”
“Itu aku beli untukmu” aku menyentil pelispis
Minho dan pergi menjauh.
“Sungguh? Jadi sekarang mawar ini milikku?”
tanyanya seraya berjalan menghampiriku.
“Iya,”
“Kalau begitu, would you marry me?” tanya
Minho untuk yang kedua kalinya sambil menyerahkan mawar pemberianku tadi.
Dan dengan bodohnya, untuk kedua kalinya juga
aku mengangguk seraya mengambil pemberiannya.
Kami sama-sama tersenyum. Perlahan Minho
mendekatkan wajahnya. Aku pun menutup kedua mataku dan merasakan sesuatu yang
lembab menyentuh bibirku.
Aku membuka mata ketika adegan itu telah usai.
DEG! Kenapa yang kulihat adalah Minho? Sudah lima tahun aku berpacaran
dengannya dan setiap aku membuka mata setelah aku berciuman dengannya, yang
pertama kali ku lihat itu Jinki! Tapi ini? Ini pertama kalinya aku melihat
Minho setelah kissing.
Aku mengedarkan pandanganku keseluruh penjuru.
Mataku berhenti ketika melihat Jinki berdiri tepat disamping makamnya sambil
memegang sebuket mawar putih yang tadi aku bawa. Dia tersenyum padaku dan
menyelipkan kata ‘thankyou’ dibibirnya.
Aku balas tersenyum.
Tetesan air hujan menyadarkanku. Minho meraih
pinggang dan merapatkan tubuhku ke badannya. Dilindungi jaket kulit Minho yang
berada diatas kepalaku dan kepalanya, kami berlari menuju mobil dan melanjutkan
perjalanan pulang.
-END-
Gimana? Jangan lupa di comment ya, lebih dan kurang, aku mohon maaf. Kritik
dan saran kalian sangat aku butuhkan. Thnkyou udah menyisakan waktu kalian
untuk baca ff gaje aku hihi *bow ^^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar