Sabtu, 27 Juli 2013

FF SHINee : Would You Be?

Tittle                : Would You Be?
Author             : Khairunnisa Wahda & Loemongga Khofifah
Cast                 : Lee Jinki
                          Park Eunsa ( y.o.u )
Length             : Ficlet
Rating              : PG-15
Genre              : Romance
^v^
            “Kau mau membawaku kemana?” aku bertanya pada seseorang yang sedang menyetir disampingku, tapi tak ada jawaban darinya.
            “Kau seharusnya membicarakan ini dulu padaku sebelumnya. Memberi tahuku pergi kemana, membiarkan aku mempersiapkan diri. Setidaknya hanya untuk mandi dan berganti pakaian! Tidak seperti ini, membangunkanku pagi buta dan mengajakku pergi ntah kemana. Membiarkanku masih setia memakai piyama dan sandal rumah berkepala kelinci besar. Belum lagi kau menutup mataku dengan scraft ini. Apa maksudnya ini? Kau itu seperti____”
            “Bisakah kau berhenti protes? Menurutku kau terlihat cantik kapan saja, sekalipun kau baru bangun tidur,”
            Huft, itulah Jinki. Dia selalu bisa membungkam mulutku hanya dengan kalimat manis yang diucapkannya.
            Mengapa pagi-pagi buta begini dia sudah membuatku merasa kesal dan senang sekaligus? Menyebalkan!
            “Cha! Sudah sampai..” Jinki turun dan membukakan pintu untukku.
            Layaknya orang tunanetra, dia menuntunku berjalan. Tangan kirinya melingkar di pinggangku, sedangkan tangan kanannya menggenggam tangan kananku.
            Dapat ku dengar hentaman ombak yang berkejar-kejaran. Pantai kah ini?
            “Pelan-pelan! Jangan sampai kau merusaknya!” ucap Jinki.
            Ku turuti ucapannya meski aku penasaran apa yang akan rusak jika aku berjalan sembarangan.
            “Kau siap?” tanyanya sambil membuka scraft yang ku pakai.
            “Sekarang, buka matamu,” perintahnya.
            Perlahan ku buka mataku. Aku terbelalak. Bahkan tanpa sadar aku sudah menahan napas.
            Ini sungguh menakjubkan!
            Bayangkan saja, Jinki menculikku pagi-pagi buta hanya untuk melihat sunrise. Belum lagi kini aku tengah berdiri diatas pasir pantai dengan kelopak bunga mawar berbentuk lambang hati yang sengaja ditebar olehnya.
            Dapat ku rasakan tangan kekar itu melingkar dipinggangku. Jinki memelukku dari belakang, dagunya mendarat di pundak kananku.
            “Kau suka?” tanyanya pelan, tapi masih dapat ku dengar dengan jelas.
            “Sangat,” ucapku seraya tersenyum.
            Aku dan Jinki terdiam menikmati suasana yang kami rasakan sekarang. Pelukannya menghangatkan tubuhku -yang masih memakai piyama tipis- dari udara dingin di pagi hari.
            Jinki melepas pelukannya dan berjalan kedepanku. Aku hanya mampu menatapnya heran. Ku lihat kini Jinki berlutut sambil terus memegang tanganku.
            “Sayang, terimakasih telah menjadi ratu hatiku selama tiga tahun ini. Love you more than you know,” ungkapnya sambil tersenyum manis.
            Aku speechless. Aku tak bisa berbuat apa-apa selain tersenyum haru. Bahkan aku sendiri lupa kalau hari ini adalah hari jadi kami yang ketiga tahun.
            Jinki mengecup punggung tanganku sekilas. Cairan hangat itu menggenang di pelupuk mataku.
            Jinki bangkit seraya merogoh saku belakang celananya. Tepat didepan wajahku, dia menggenggam tangannya sendiri. Perlahan jari-jarinya merenggang dan sebuah liontin berwarna aquapearl menggantung disana. Pantulan cahaya matahari yang akan terbit dan kilatan air pantai membuat liontin yang dipegang Jinki semakin bersinar.
            Jinki tersenyum dan memakaikan liontin itu ke leherku.
            “Kau terlihat lebih cantik jika memakai liontin ini,” ucapnya yang hanya bisa ku balas dengan senyum.
            “Would you be a part of my life? Be a piece of my heart? And be a mom for my child?”
            Aku kembali menatap dalam mata Jinki. Mencoba mencari celah kebohongan disana. Tapi hasilnya? NOTHING! Jinki benar-benar serius kali ini.
            Cairan hangat yang sedari tadi ku tahan memaksa untuk keluar. Menciptakan aliran sungai kecil di pipiku.
            “Hey, jangan menangis,” dengan cepat dia menghapus air mataku dan langsung memelukku.
Dia mengelus punggungku pelan. Aku terus menangis mengeluarkan seluruh emosiku. Ntahlah, hanya saja ini terlalu mendadak. Aku tak pernah berfikir sebelumnya kalau Jinki akan melamarku dengan cara seperti ini. Ini terlalu……romantis.
Pelukan Jinki melonggar, walaupun tangannya masih melingkar dipinggangku. Dia menatapku dengan penuh harap.
“Would you be?” tanyanya lagi.
Aku mengangguk yakin kali ini. Jinki tersenyum sehingga membuat mata sipitnya menjadi garis lengkung.
“Thankyou,” ucapnya sambil mengecup keningku.
“Jangan pernah lupakan aku dari fikiranmu”
Dia mengecup mata kanan dan kiriku, “Jangan pernah menangis lagi untukku”
Di kecupnya hidungku, “Teruslah bernapas untukku”
Lalu dia mengecup kedua pipiku, “Teruslah tersenyum untukku,”
Aku menatapnya dalam-dalam, seolah ingin menyakinkan kalau itu adalah keinginan terbesarnya.
“Terus yang ini untuk apa?” tanyaku dengan nada menggoda.
“Yang mana?” dia kelihatan pura-pura bingung. Ya, Lee Jinki! Wajahmu tidak cocok dipakai untuk berbohong.
“Yang ini….”
“Yang mana sayang?” tanyanya dengan wajah polos. Aish, dia benar-benar mempermainkanku!
“Yang ini….*CHU~~*” aku mengecup bibirnya singkat.
“Nggg…Kalau yang itu…” Jinki tampak berfikir, “Yang itu untuk memanjakan bibirku,” ucapnya nakal.
“YAK!!!” spontan ku pukul kepalanya dengan sangat keras.
“Ya, appooo~” rintih Jinki seraya mengelus kepalanya yang ku pukul tadi.
“Dasar!” aku tersenyum dan langsung mengalungkan tanganku dilehernya. Ku peluk tubuhnya erat dan kurasakan Jinki melingkarkan tangannya di pinggangku, membalas pelukanku.
“Aku mencintaimu,” bisikku.
“Aku juga,” ucapnya seraya mengecup pundakku.

-END-

Otte? Aneh ya? Hehe, jujur ini karya kolaborasi pertamaku dengan kaknisa. Kalau kalian suka, bilang suka ya. Kalau enggak, bilang suka juga huahaha. Komentar, kritik, dan saran kalian sangat kami tunggu karena itu akan membantu kami kedepannya. Don’t be siders ya, thnkyou udah nyempatin buat baca ff gaje ini ^^ *bow

Tidak ada komentar:

Posting Komentar