Tittle :
Would You Be?
Author :
Khairunnisa Wahda & Loemongga Khofifah
Cast :
Lee Jinki
Park Eunsa ( y.o.u )
Length :
Ficlet
Rating :
PG-15
Genre :
Romance
^v^
“Kau
mau membawaku kemana?” aku bertanya pada seseorang yang sedang menyetir
disampingku, tapi tak ada jawaban darinya.
“Kau seharusnya membicarakan ini dulu padaku sebelumnya.
Memberi tahuku pergi kemana, membiarkan aku mempersiapkan diri. Setidaknya
hanya untuk mandi dan berganti pakaian! Tidak seperti ini, membangunkanku pagi
buta dan mengajakku pergi ntah kemana. Membiarkanku masih setia memakai piyama
dan sandal rumah berkepala kelinci besar. Belum lagi kau menutup mataku dengan
scraft ini. Apa maksudnya ini? Kau itu seperti____”
“Bisakah kau berhenti protes? Menurutku kau terlihat
cantik kapan saja, sekalipun kau baru bangun tidur,”
Huft, itulah Jinki. Dia selalu bisa membungkam mulutku
hanya dengan kalimat manis yang diucapkannya.
Mengapa pagi-pagi buta begini dia sudah membuatku merasa
kesal dan senang sekaligus? Menyebalkan!
“Cha! Sudah sampai..” Jinki turun dan membukakan pintu
untukku.
Layaknya orang tunanetra, dia menuntunku berjalan. Tangan
kirinya melingkar di pinggangku, sedangkan tangan kanannya menggenggam tangan
kananku.
Dapat ku dengar hentaman ombak yang berkejar-kejaran. Pantai kah ini?
“Pelan-pelan! Jangan sampai kau merusaknya!” ucap Jinki.
Ku turuti ucapannya meski aku penasaran apa yang akan
rusak jika aku berjalan sembarangan.
“Kau siap?” tanyanya sambil membuka scraft yang ku pakai.
“Sekarang, buka matamu,” perintahnya.
Perlahan ku buka mataku. Aku terbelalak. Bahkan tanpa
sadar aku sudah menahan napas.
Ini sungguh
menakjubkan!
Bayangkan saja, Jinki menculikku pagi-pagi buta hanya
untuk melihat sunrise. Belum lagi
kini aku tengah berdiri diatas pasir pantai dengan kelopak bunga mawar
berbentuk lambang hati yang sengaja ditebar olehnya.
Dapat ku rasakan tangan kekar itu melingkar dipinggangku.
Jinki memelukku dari belakang, dagunya mendarat di pundak kananku.
“Kau suka?” tanyanya pelan, tapi masih dapat ku dengar
dengan jelas.
“Sangat,” ucapku seraya tersenyum.
Aku dan Jinki terdiam menikmati suasana yang kami rasakan
sekarang. Pelukannya menghangatkan tubuhku -yang masih memakai piyama tipis-
dari udara dingin di pagi hari.
Jinki melepas pelukannya dan berjalan kedepanku. Aku
hanya mampu menatapnya heran. Ku lihat kini Jinki berlutut sambil terus
memegang tanganku.
“Sayang, terimakasih telah menjadi ratu hatiku selama
tiga tahun ini. Love you more than you
know,” ungkapnya sambil tersenyum manis.
Aku speechless. Aku tak bisa berbuat apa-apa selain
tersenyum haru. Bahkan aku sendiri lupa kalau hari ini adalah hari jadi kami
yang ketiga tahun.
Jinki mengecup punggung tanganku sekilas. Cairan hangat
itu menggenang di pelupuk mataku.
Jinki bangkit seraya merogoh saku belakang celananya.
Tepat didepan wajahku, dia menggenggam tangannya sendiri. Perlahan jari-jarinya
merenggang dan sebuah liontin berwarna aquapearl menggantung disana. Pantulan
cahaya matahari yang akan terbit dan kilatan air pantai membuat liontin yang
dipegang Jinki semakin bersinar.
Jinki tersenyum dan memakaikan liontin itu ke leherku.
“Kau terlihat lebih cantik jika memakai liontin ini,”
ucapnya yang hanya bisa ku balas dengan senyum.
“Would you be a
part of my life? Be a piece of my heart? And be a mom for my child?”
Aku kembali
menatap dalam mata Jinki. Mencoba mencari celah kebohongan disana. Tapi
hasilnya? NOTHING! Jinki benar-benar serius kali ini.
Cairan hangat yang sedari tadi ku tahan memaksa untuk
keluar. Menciptakan aliran sungai kecil di pipiku.
“Hey, jangan menangis,” dengan cepat dia menghapus air
mataku dan langsung memelukku.
Dia
mengelus punggungku pelan. Aku terus menangis mengeluarkan seluruh emosiku.
Ntahlah, hanya saja ini terlalu mendadak. Aku tak pernah berfikir sebelumnya
kalau Jinki akan melamarku dengan cara seperti ini. Ini terlalu……romantis.
Pelukan
Jinki melonggar, walaupun tangannya masih melingkar dipinggangku. Dia menatapku
dengan penuh harap.
“Would you be?”
tanyanya lagi.
Aku
mengangguk yakin kali ini. Jinki tersenyum sehingga membuat mata sipitnya
menjadi garis lengkung.
“Thankyou,”
ucapnya sambil mengecup keningku.
“Jangan
pernah lupakan aku dari fikiranmu”
Dia
mengecup mata kanan dan kiriku, “Jangan pernah menangis lagi untukku”
Di
kecupnya hidungku, “Teruslah bernapas untukku”
Lalu
dia mengecup kedua pipiku, “Teruslah tersenyum untukku,”
Aku
menatapnya dalam-dalam, seolah ingin menyakinkan kalau itu adalah keinginan
terbesarnya.
“Terus
yang ini untuk apa?” tanyaku dengan nada menggoda.
“Yang
mana?” dia kelihatan pura-pura bingung. Ya, Lee Jinki! Wajahmu tidak cocok
dipakai untuk berbohong.
“Yang
ini….”
“Yang
mana sayang?” tanyanya dengan wajah polos. Aish, dia benar-benar
mempermainkanku!
“Yang
ini….*CHU~~*” aku mengecup bibirnya singkat.
“Nggg…Kalau
yang itu…” Jinki tampak berfikir, “Yang itu untuk memanjakan bibirku,” ucapnya
nakal.
“YAK!!!”
spontan ku pukul kepalanya dengan sangat keras.
“Ya,
appooo~” rintih Jinki seraya mengelus kepalanya yang ku pukul tadi.
“Dasar!”
aku tersenyum dan langsung mengalungkan tanganku dilehernya. Ku peluk tubuhnya
erat dan kurasakan Jinki melingkarkan tangannya di pinggangku, membalas
pelukanku.
“Aku
mencintaimu,” bisikku.
“Aku
juga,” ucapnya seraya mengecup pundakku.
-END-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar